Buletin Forestry Magazine Edisi Mahasiswa Baru sudah terbit!
Yuk kenal lebih dekat dengan Fakultas Kehutanan dan apa saja yang ada didalamnya dengan membaca buletin ini, sekaligus supaya kamu lebih cinta dengan kampus kebanggan kita semua ini. Karena tak kenal maka tak sayang! klik link dibawah yaa😉✨
atau baca disini tanpa mendownload
Media dan Informasi
Oleh : Julian Ariza Pradana dan Yustitia Rizki Halalia
Pandemi Covid-19 mengakibatkan berbagai dampak buruk yang membuat
kekhawatiran dan kecemasan pada setiap elemen masyarakat. Bagaimana tidak?
Pasalnya pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang kondisi kesehatan fisik seseorang,
tetapi juga melumpuhkan setiap lapisan sektor, baik itu sektor ekonomi, pariwisata,
agro dan lain-lain. Keadaan yang semakin mendesak mengharuskan pemerintah untuk
segera mengambil kebijakan penanganan Covid-19. Kebijakan tersebut yaitu seperti
Work From Home, Social Distancing atau Physical Distancing, karantina, penerapan
protokol kesehatan yang mewajibkan penggunaan masker, rajin mencuci tangan, dan
membawa hand sanitizer serta terdapat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB).
Oleh : Respati Bayu Kusuma
Keterbatasan ruang untuk menanam merupakan hal yang perlu mendapat perhatian masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Apalagi di tengah pandemi ini, keterbatasan bahan pangan dapat mengancam kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya dalam mengupayakan ketahanan pangan agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka di tengah pandemi ini. Upaya tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan urban farming. Urban Farming adalah suatu kegiatan penanaman di daerah perkotaan dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang ada untuk menggantikan sistem penanaman konvensional yang mengandalkan luasan lahan.
OLEH: Aditya Setyawan Putra
Bumi, satu-satunya planet dalam susunan tata surya yang ditinggali oleh makhluk hidup ini tak lama lagi akan dirayakan besar-besaran oleh miliaran cacah jiwa di seluruh dunia. Tepatnya 22 April nanti seluruh penduduk bumi akan merayakan suatu hari yang dinamakan Hari Bumi (Earth Day). Tentunya perayaan Hari Bumi ini tak seramai dan semeriah perayaan HUT Kemerdekaan RI atau hari-hari besar lainnya. Pasalnya, sampai saat ini di Indonesia juga masih banyak yang belum mengetahui tentang Hari Bumi, sehingga Hari Bumi hanya dirayakan oleh sebagian masyarakat saja. Di Hari Bumi ini justru masyarakat biasanya melakukan kegiatan-kegiatan sederhana yang berhubungan dengan pelestarian dan pemberdayaan lingkungan. Banyak sekali macam kegiatan yang dilakukan penduduk bumi dalam mengisi Hari Bumi ini. Dimulai dari aksi di rumah sendiri, yaitu menghemat penggunaan air, lampu, dan listrik. Adapun kegiatan lain yang biasanya diadakan di lingkungan sekitar, seperti program sosialisasi lingkungan, bersih-bersih jalan atau kampung, dan penanaman pohon secara massal. Tak hanya sampai disitu, aksi-aksi unjuk rasa atau demo mengenai kerusakan lingkungan juga turut mewarnai Hari Bumi ini. Unjuk rasa biasanya dilakukan di sepanjang jalan-jalan vital suatu kota, bahkan di depan Istana Presiden sekalipun. Para pengunjuk rasa kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa, kritikus, dan aktivis lingkungan yang fokus betul terhadap kondisi lingkungan dan hubungannya terhadap keberlangsungan hidup makhluk hidup. Aktivitas sosial juga ikut meramaikan kegiatan di Hari Bumi, seperti acara bagi-bagi bunga, sembako, dan pakaian layak pakai; kunjungan ke panti sosial; serta kegiatan lain yang seringkali dilakukan oleh suatu komunitas sosial.
OLEH: HENDIAN BUDI SETYARA
Bumi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tempat yang dapat ditinggali manusia, hewan dan tumbuhan. Di bumi ini manusia, hewan, dan tumbuhan setiap detiknya melangsungkan hidupnya. Bumi sangatlah penting dan menjadi begitu penting mengingat bumi adalah sumber kehidupan bagi makhluk yang menempatinya. Saya kira jika saya mengatakan bahwa “bumi adalah bentuk dari kehidupan” itu sendiri, saya kira ini bukan suatu yang berlebihan.
Bumi tidak butuh manusia tapi manusia lah yang membutuhkan bumi. Bumi akan tetap eksis meskipun tanpa manusia, namun manusia tanpa bumi? Mungkin mereka hanya bisa nyengir (kalaupun itu mereka hidup). Bumi memiliki suatu sistem dimana sistem tersebut mengatur keseimbangan proses-proses didalamnya sehingga makhluk hidup dapat hidup dengan semestinya. Sistem ini sangatlah kuat namun tidak menutup kemungkinan sistem ini terganggu dan kemudian rusak. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan sistem keseimbangan di bumi menjadi terganggu, namun faktor yang paling istiqomah yang mempercepat kerusakan sistem ini tak lain dan tak bukan adalah manusia. Manusia pada hakikatnya berkewajiban untuk menjaga keseimbangan yang ada di bumi dengan sebaik-baiknya karena seharusnya jika kita sadar maka harusnya kita punya beban budi terhadap bumi. Segala yang kita butuhkan sudah disediakan oleh bumi dengan cuma-cuma dan yang diharapkan dari kita hanyalah menjaga bumi dan mengelolanya dengan bijak.