Bukti(kan) Kepedulian kita: Aksi Berkelanjutan, Bukan Euforia Seremonial Semata

OLEH: HENDIAN BUDI SETYARA

Bumi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tempat yang dapat ditinggali manusia, hewan dan tumbuhan. Di bumi ini manusia, hewan, dan tumbuhan setiap detiknya melangsungkan hidupnya. Bumi sangatlah penting dan menjadi begitu penting mengingat bumi adalah sumber kehidupan bagi makhluk yang menempatinya. Saya kira jika saya mengatakan bahwa “bumi adalah bentuk dari kehidupan” itu sendiri, saya kira ini bukan suatu yang berlebihan.

Bumi tidak butuh manusia tapi manusia lah yang membutuhkan bumi. Bumi akan tetap eksis meskipun tanpa manusia, namun manusia tanpa bumi? Mungkin mereka hanya bisa nyengir (kalaupun itu mereka hidup). Bumi memiliki suatu sistem dimana sistem tersebut mengatur keseimbangan proses-proses didalamnya sehingga makhluk hidup dapat hidup dengan semestinya. Sistem ini sangatlah kuat namun tidak menutup kemungkinan sistem ini terganggu dan kemudian rusak. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan sistem keseimbangan di bumi menjadi terganggu, namun faktor yang paling istiqomah yang mempercepat kerusakan sistem ini tak lain dan tak bukan adalah manusia. Manusia pada hakikatnya berkewajiban untuk menjaga keseimbangan yang ada di bumi dengan sebaik-baiknya karena seharusnya jika kita sadar maka harusnya kita punya beban budi terhadap bumi. Segala yang kita butuhkan sudah disediakan oleh bumi dengan cuma-cuma dan yang diharapkan dari kita hanyalah menjaga bumi dan mengelolanya dengan bijak.

Bumi yang sebagai pijakan kita hidup tidak jarang luput dari perhatian kita. Padahal bumi sangatlah membutuhkan uluran tangan kita semua. Tujuannya tidak lain agar bumi tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk ditinggali baik untuk generasi kita maupun generasi masa depan. Maka dari itu memupuk rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap bumi perlu ditanamkan sesegera mungkin. Menumbuhkan kepedulian tidak harus dengan aksi besar-besaran atau mencakup massa yang besar, karena jika terus beralasan seperti itu—kepedulian harus dengan massa yang besar— yang dimana momen-momen seperti itu hanya ada satu atau dua kali dalam satu tahunnya, ditakutkannya kita malah akan kehilangan kesempatan yang besar. Padahal kerusakan yang terjadi di bumi ini terus-terusan (berkelanjutan) dan yang pasti dari waktu ke waktu semakin besar. Maka dari itu, cukup berawal dari diri sendiri lah pertama sikap kepedulian terhadap bumi ditumbuhkan. Dengan memulai dari diri sendiri maka kita sudah memulai langkah kita (langkah nyata kita). Perwujudan kepedulian dapat disalurkan lewat suatu karya ataupun lewat aksi. Sesederhananya karya atau sekecil apapun bentuk aksi itu tidak masalah, yang penting ketulusan kita dalam kepedulian merawat bumi. Seperti pepatah dari lao Tze “Perjalanan 1000 mil dimulai dari 1 langkah”, yang artinya bahwa setiap usaha kecil kepedulian kita jika terus dilakukan (istiqamah) maka akan semakin besar jadinya efek hasil yang terasa, dan bayangkan jika usaha seperti ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, dapat dipastikan efeknya akan luar biasa dan efek berantai pun juga akan mengikuti.

Hari bumi yang setiap tahunnya diselenggarakan tiap 22 April adalah puncak dari kepedulian kita terhadap bumi tercinta. Menurut Earth Day Network (EDN), organisasi non-profit yang mengkoordinir kegiatan Hari Bumi, lebih dari 1 milyar orang yang tergabung dalam kegiatan Hari Bumi. Lebih dari 192 negara ikut andil dalam gerakan hari bumi ini. Sangatlah kurang tepat jika memaknai hari bumi hanya sekadar aksi selebrasi atau peringatan semata—22 April. Hari bumi lebih dari sekadar apel ceremonial yang serentak diselenggarakan di seluruh penjuru dunia. Namun, Hari Bumi (Gerakan Hari Bumi) ini adalah suatu usaha yang berkelanjutan, sebuah karya atas dasar kepedulian bersama, atas dukungan dari berbagai pihak. Mengusung tema: Pohon untuk Bumi, EDN menginisiasi aksi menanam 7,8 milyar pohon, mulai dari tahun 2016 ini, selama perhitungan mundur untuk perayaan ulang tahun Hari Bumi ke-50 pada tahun 2020 mendatang. Satu pohon untuk satu orang, EDN mengajak semua pihak untuk ikut berpartisipasi dalam aksi bersama ini.

Lalu, apakah aksi kita hanya berhenti sampai disitu saja? Seharusnya tidak. Jangan sampai kepedulian kita hanya berhenti sampai pada pengguguran tugas semata. Masih banyak PR yang harus kita semua kerjakan dan selesaikan. Masalah dan isu lingkungan yang sekarang ini beredar mungkin sebagian besar adalah berasal dari ulah manusia (yang tidak bertanggung jawab) itu sendiri. Semua itu jika dirunut dari akibat dan asal sebab maka akan mengarah kepada kurangnya kepedulian terhadap lingkungan. Dari situlah gagasan bahwa kepedulian harus ditanamkan sesegera mungkin dan dimulai pada diri sendiri sangatlah urgent. Penanaman kepedulian disini dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan cinta lingkungan terhadap siswa-siswi yang sedang duduk dibangku sekolah, aktif menjadi aktivis ataupun relawan dalam upaya pelestarian lingkungan, dan yang paling penting adalah merubah “mindet serba instan” menjadi “mindset serba cinta lingkungan”. Maksud saya “mindset kontra dari serba instan” tersebut adalah dengan membiasakan hidup hemat, meninggalkan budaya konsumtif, disiplin membuang sampah pada tempatnya (mengenal 5 jenis warna tempat sampah dan fungsinya), hemat air, hemat listrik dan lain sebagainya. Sengaja saya tidak saya sebutkan semua karena salah satu persyaratannya “Essay tidak lebih dari 3 lembar. Memang hal yang saya sebutkan diatas terlalu teknis namun hal-hal yang sekiranya luput dari perhatian itulah yang sangat urgent sekali dilakukan—mengingat Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengumumkan prediksinya lewat sebuah dataset bahwa bumi akan mengalami perubahan iklim besar-besaran dalam waktu 85 tahun lagi, tepatnya di tahun 2100. Sekadar info saja bahwasannya pada tahun 2100 lapisan karbondioksida pada atmosfer bumi diprediksi akan mencapai 935 ppm (parts per million), sebuah angka yang sangat tinggi mengingat saat ini lapisan karbondioksida sudah berkisar pada 400 ppm.

Silakan direnungkan jika memang dibutuhkan..

Lalu bagaimanakah peran kita sebagai para pemijak bumi? Apakah diam saja melihat masalah dan isu yang membuat kita (seharusnya) sudah mulai berkeringat dari sekarang, atau menunggu tahun 2100 baru berkeringat? Kalau menunggu tahun 2100 untuk berkeringat saya takut saat itu kita tidak bisa lagi berkeringat karena tidak ada persediaan air lagi untuk diproses menjadi keringat. Maka dari itu sebelum terlambat, sebelum generasi masa depan mengenang generasi kita menjadi sebuah pengalaman (re:kesalahan), saya lebih prefer untuk menjadi generasi teladan dan dikenang karena aksinya dalam menjaga bumi menjadi tempat yang indah untuk generasi masa depan. Dapatkah ini dilakukan sendirian? Tidak. Kita perlu bergerak bersama. Ya, bergerak bersama-sama.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *